PERAN MADRASAH DALAM DUNIA PENDIDIKAN

DESAIN PENGEMBANGAN MADRASAH

SEBAGAI WUJUD INOVASI PENDIDIKAN DALAM RANGKA MENSUKSESKAN PENDIDIKAN NASIONAL

MAKALAH

Diajukan untuk memenuhi

Tugas Akademik Perkuliahan : Orientasi Baru Dalam Pedagogik

( Pengaganti Ujian Akhir Semester )

Dosen : Ibu Prof.Dr.Martini Jamaris,M.Sc.Ed

OLEH

Nama : Nur Widiantoro

No.Reg. : 7617090977

Semseter/Jur : /S.3Pendek/ Manajemen Pendidikan

Kelas/Utusan :A ( Departemen Agama )

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

TAHUN 2010

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Sebagai lembaga pendidikan yang sudah lama berkembang di Indonesia , madrasah selain telah berhasil membina dan mengembangkan kehidupan beragama di Indonesia, juga ikut berperan dalam menanamkan rasa kebangsaan ke dalam jiwa rakyat Indonesia. Disamping itu madrasah juga sangat berperan mencerdaskan kehidupan bangsa serta mewujudkan tercapainya tujuan pendidikan nasional.

Soedijarto dalam bukunya : Landasan dan Arah Pendidikan Nasional Kita menyatakan :

Sesungguhnya secara formal sekolah-sekolah kita telah memenuhi syarat seperti yang dimaksudkan oleh Cohen yaitu adanya tenaga khusus ( guru ), gedung permanen, perlengkapan belajar, metode pembelajaran, perangkat kurikulum, dan tujuan-tujuan pendidikan yang harus dicapai. Namun mengapa lembaga pendidikan sekolah kita, yang secara formal telah memenuhi syarat, dlam kenayataan belum mampu melaksanakan fungsinya seperti yang terjadi di AS, Inggris dan Jerman “ ( Sodijarto : 2008 :96 )

Namun demikian, performa madrasah sampai pada saat ini masih sangat rendah. Beberapa permasalahan telah berhasil diidentifikasi menjadi penyebabnya baik pada tingkat pengelolaan maupun kebijakan. Masalah kurikulum madrasah yang masih belum fokus dan proses pendidikan yang belum mendukung pada visi dan misi madrasah, merupakan contoh isu ditingkat pengelolaan, sedangkan kebijakan pengembangan madrasah yang masih bersifat tambal sulam serta belum adanya cetak biru pengembangan madrasah merupakan contoh issu ditingkat kebijakan.

Berbicara madrasah maka tidak bisa lepas dari sekolah atau madrasah sebagai tempat untuk melaksanakan interaksi proses belajar mengajar yang mempunyai beberapa fungsi, madrasah sebagai fungsi sosial, Dewey ( 1964:22) mengemukakan:

Three of the more important fungsions of this special environment are : Simplifying and ordering the factor of the disposition it is wished to develop; creating a wider and better balanced environment then that by which the young would be lekely, if to themselves, to be influenced.”

Sekolah sebagai alat tranmisi, merupakan suatu lingkungan khusus yang memeiliki tiga fungsi yaitu :

a. Menyederhanakan dan menertibkan faktor-faktor bawaan yang dibutuhkan untuk berkembang

b. Memurnikan dan mengidealkan kebiasaan masyarakat yang ada.

c. Menciptakan suatu lingkungan yang lebih luas, dan lebih baik dari pada yang diciptakan anak tersebut dan menjadi milik mereka untuk dikembangkan.

Madrasah sebagai suatu lembaga pendidikan juga merupakan tempat untuk menempa dan membentuk karakter dan akhlak peserta didik dalam rangka mewujudkan manusia Indonseia seutuhnya sesuai dengan tujuan dari pendidikan nasional.

Sedangkan Katarina Tomasevski dalam bukunya Pendidikan yang terabaikan mengemukakan bahwa : ” Hak atas pendidikan melibatkan empat permainan kunci: pemerintah sebagai penyedia dan/atau pembiaya sekolah publik, sianak sebagai pemegang hak atas pendidik dan pemegang tugas untuk mengikuti ketentuan-ketentuan wajib belajar, orang tua si anak yang merupakan pendidik pertama, dan pendidik profesional yaitu para guru.”( Katarina Tomasevski,2003:55)

Sejumlah permasalahan madrasah di atas secara fakta sejarah dan pengalaman yang sangat panjang dalam menyelesaikan masalah-masalah aktual di lingkungan madrasah sampai dengan saat ini, merupakan modal dasar untuk merumuskan desain kebijakan pengembangan madrasah baik berjangka pendek, menengah, maupun berjangka panjang ( Departemen Agama RI, 2004:3 ).

Selanjutnya belajar dari pengalaman, telah banyak gagasan inovatif untuk mengembangkan pendidikan yang disertai dengan implementasi dan biaya yang tidak sedikit, namun tidak cukup terlihat dampak keberhasilannya . Kegagalan inovasi itu ,sesungguhnya bersumber dari ketiadaan kerangka yang kuat berjangka panjang, aspiratif, demokratis, partisipatif dan dilaksanakan secara konsisten dan berkesinambungan dari kondisi yang ada selama ini.

Tuntutan terhadap desain madrasah dalam konteks pengembangan madrasah, dengan segenap potensi yang dimiliki dan tantangan yang dihadapinya, dewasa ini dirasakan mat mendesak. Desain yang dimaksud merupakan garis-garis besar prinsip dan kebijakan pengembangan madrasah, sehingga disebut dengan desain pengembangan madarasah yang selanjutnya dijabarkan dalam berbagai program dan pengaturannya untuk dijadikan landasan dalam berfikir dan bertindak.

” Seiring dengan era globalisasi maka pendidikan di Indonesia saat ini perlu menyesuaikan diri dengan dua perkembangan tuntutan masyarakat yang sangat mendasar. Pertama tuntutan perubahan tatanan masyarakat di era reformasi ini yakni demokratisasi dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam bidang pendidikan. Kedua tuntutan perkembangan global yakni perliu adanya peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan, sehingga masyarakat dan bangsa Indonesia mampu berperan dan bersaing dalam interaksi dengan masyarakat dan bangsa-bangsa lain dalam tatanan dunia yang semakin menyempit.” ( Departemen Agama RI,2005 : 1 )

Desian pengembangan madrasah adalah merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan mutu madrasah agar kualitas madrasah semakin meningkat sehingga madrasah dapat diterima oleh segala lapisan masyarakat dan lulusan dari madrasah mampu beradaptasi dan bersosialisasi dalam hidup bermasyarakat dan berbangsa di Negara kita tercinta ini.

B. Perumusan Masalah

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat membawa dampak yang positif bagi umat manusia namun bias juga membawa dampak yang negativ bagi kehidupan umat manusia, hal ini merupakan tantangan bagi dunia pendidikan termasuk bagi madrasah, oleh karena itu diperlukan suatu inovasi untuk memecahkan permasalahan pendidikan di madrasah agar pendidikan di madrasah selaras dengan tantangan kehidupan yang selalu berubah dan berkembang.

Agar pembahasan makalah ini tidak terlalu melebar maka penulis merumuskan beberapa masalah sebagai berikut :

1. Bagaimanakah konsep inovasi pendidikan, karakteristik dan proses keputusan inovasi

2. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi inovasi dalam pendidikan

3. Bagaimanakah Strategi pengembangan madrasah

4. Bagaimanakah sistem pendidikan nasioanal yang diperlukan bagi masyarakat masa depan ?

C. Tujuan Penulisan

Penulisan makalah yang bejudul “Desain Strategi Pengembangan Madrasah: Tinjauan Inovasi Pendidikan” bertujuan untuk memenuhi tugas akademik mata kuliah Inovasi pendidikan. Sebagaimana tujuan mata kuliah tersebut, yakni memberikan konsep dasar inovasi, maka substansi makalah inipun diarahkan pada bagaimana penulis dapat memahami dan mengembangkannya sebagai sumber inspirasi dalam inovasi pendidikan.

Berdasarkan uraian tersebut, maka secara umum penulisan makalah ini bertujuan sebagai berikut :

1. Untuk mendapat gambaran tentang konsep dasar inovasi pendidikan, karakteristik dan proses keputusan inovasi.

2. Untuk mendapat gambaran tentang faktor-faktor yang mempengaruhi inovasi dalam pendidikan

3. Untuk mendapat gambaran tentang strategi pengembangan madrasah.

4. Untuk mendapatkan gambaran tentang sistem pendidikan nasioanal yang diperlukan bagi masyarakat masa depan

BAB II

PEMBAHASAN

A. Konsep Inovasi Pendidikan

1. Pengertian Inovasi

Dalam bahasa Inggris inovasi adalah innovation, yaitu segala hal yang baru atau pembaharuan. Ada juga yang menyebutnya dengan penemuan yang dalam bahasa Innggris disebut discovery dan invention, karena ditemukannya sesuatu yang baru, baik yang baru dalam arti rekayasa atau yang betul-betul baru karena tidak ada sebelumnya. Ibrahim (1988: 39) menjelaskan lebih lanjut ketiga konsep tersebut.

Discovery adalah suatu penemuan sesuatu yang sebenarnya ada atau hal tersebut sudah ada, tetapi belum diketahui orang. Seperti Newton menemukan hukum Gravitasi Bumi, yang sebenarnya gaya tarik bumi sudah lama ada. Atau Columbus yang menemukan benua Amerika tahun 1492, yang sebenarnya benua itu sudah lama ada, hanya Columbus yang pertama kali menjumpainya.

Invention adalah suatu penemuan baru yang benar-benar baru sebagai hasil kreasi manusia. Melalui pengamatan, pengalaman, dan konsistensinya dalam mempelajari atau menelaah sesuatu sampai kepada suatu bentuk model yang diakui orang lain sebagai sesuatu yang baru karena belum ada sebelumnya seperti hasil penemuan teori belajar, arsitektur unik bangunan, mode pakaian, teknologi rumah tangga, dan sebagainya.

Innovation menurut Rogers (1983: 11) adalah suatu gagasan, teknik-teknik atau praktik atau benda yang disadari diterima oleh seseorang atau kelompok untuk diadopsi. Robbins (1994) menyebut inovasi suatu gagasan baru yang diterapkan untuk memprakarsai atau memperbaiki suatu produk, proses, dan jasa. Sedangkan Freedman (1988) menyebut inovasi sebagai sebagai suatu proses pengimplementasian ide-ide baru dengan mengubah konsep kreatif menjadi suatu kenyataan.

Dengan demikian, innovation adalah suatu gagasan, barang, kejadian, teknik-teknik/metode-metode atau praktek yang diamati, disadari, dirasakan, dan diterima sebagai hal yang baru oleh seseorang atau kelompok (masyarakat), baik sebagai hasil discovery maupun invention.

Zaltman dan Duncan (1973) memperjelas pengertian inovasi dengan membandingkannya dengan perubahan sosial. Semua inovasi adalah termasuk perubahan sosial, tetapi perubahan sosial belum tentu inovasi. Inovasi adalah perubahan sosial yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu atau untuk memecahkan masalah tertentu. Drucker (1995: 6) menyatakan bahwa inovasi adalah perubahan sosial sebagaimana dinyatakan dalam empat dimensi inovasi, yaitu proses kreatif (creative process), adanya perubahan (change), mengarah kepada pembaharuan (new condition), dan memiliki nilai tambah (having added values). Inovasi merupakan proses kreatif dalam mengubah input, proses, dan output agar dapat sukses dalam menanggapi dan mengantisipasi perubahan-perubahan internal dan eksternal sekolah (Slamet, 2003).

Sebagai suatu perubahan sosial, Rogers (1983) mengemukakan terjadinya perubahan sosial berdasarkan atas tiga tahapan secara berurutan, yaitu sebagai berikut:

1) Invensi, yaitu proses ketika ide-ide baru diciptakan dan dikembangkan.

2) Difusi, yaitu proses ide-ide baru dikomunikasikan pada sistem sosial.

3) Konsekuensi, yaitu perubahan-perubahan yang terjadi dalam sistem sosial sebagai akibat dari adopsi atau penolakan ide-ide baru, dan secara totalitas perubahan sosial merupakan hasil komunikasi.

2. Inovasi Pendidikan

Ibrahim (1988: 51) mengemukakan, inovasi pendidikan adalah inovasi (perubahan) dalam bidang pendidikan atau inovasi untuk memecahkan masalah pendidikan. Jadi inovasi pendidikan ialah: suatu ide, barang, metode yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat) baik berupa hasil invensi atau diskoveri, yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau untuk memecahkan masalah pendidikan.

Pendidikan merupakan suatu sistem, maka inovasi pendidikan mencakup hal-hal yang berhubungan dengan komponen sistem pendidikan, baik sistem dalam arti sekolah, perguruan tinggi atau lembaga pendidikan yang lain, maupun sistem dalam arti yang luas misalnya sistem pendidikan nasional.

Berikiut ini beberapa contoh-contoh inovasi pendidikan dalam setiap komponen sistem sosial sesuai dengan pola yang dikemukakan oleh B. Miles, dengan perubahan isi disesuaikan dengan perkembangan pendidikan dewasa ini.

  • Pembinaan personalia misalnya; peningkatan mutu guru, system kenaikan pangkat, peraturan tata tertip siswa dan sebagainya.
  • Fasilitas fisik, misalnya dengan perubahan bentuk tempat duduk (satu anak satu kursi dan satu meja), perlengkapan peralatan laboratorium bahasa dan IPA, penggunaan computer dan internet di sekolah, dan sebagainya.
  • Penggunaan waktu, misalnya; penggunaan waktu belajar (semester) yang dulunya catur wulan, dan untuk perguruan tinggi adanya semester pendek.
  • Perumusan tujuan : UU Sisdiknas 2003
  • Prosedur pencapaian tujuan : KTSP
  • Peran yang diperlukan : guru dalam PBM menggunakan media.
  • Wawasan dan perasaan: pendidikan seumur hidup, wawasan guru, metode baru pembelajaran, mencintai profesi.
  • Bentuk hubungan antara bagian dalam mekanisme kerja: hubungan Depag dengan Diknas RI.
  • Hubungan dengan sistem yang lain : sekolah menyalurkan lulusannya dalam dunia kerja, Depnaker, PMR/UKS berhubungan dengan Depkes dan PMI, pembiayaan madrasah dengan funding luar.
  • Strategi : desain, kesadaran perhatian, dan evaluasi

Kemudian pelaksanaan inovasi pendidikan seperti inovasi kurikulum tidak dapat dipisahkan dari innovator dan pelaksanaan inovasi itu sendiri. Inovasi pendidikan seperti yang dilakukan di Depdiknas yang di sponsori oleh lembaga-lembaga asing cendrung merupakan “Top Down Innovation” inovasi ini sengaja diciptakan oleh atasan sebagai usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan atau pemerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan, ataupun sebagai usaha untuk meningkatkan efisiensi dan sebagainya. Inovasi seperti ini dilakukan dan diterapkan kepada bawahan dengan cara mengajak, menganjurkan dan bahkan memaksakan apa yang menurut pencipta punya otoritas untuk menolak pelaksanaannya.

Banyak contoh inovasi yang dilakukan oleh Diknas selama beberapa waktu terakhir ini, seperti: Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), Guru pamong, Sekolah Pembangunan, Sekolah kecil, Sistem Pengajaran Modul, Sistem Belajar Jarak Jauh, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), dan yang baru muncul adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Disamping itu, inovasi yang diciptakan oleh Depdiknas bekerjasama dengan lembaga-lembaga asing seperti British Council, USAID dan lain-lain.

3. Karakteristik Inovasi

Percepatan difusi inovasi dapat dilakukan dengan jalan mengenali karakteristik inovasi. Rogers (1983: 14-15) mengemukakan karakteristik inovasi yang mempengaruhi cepat atau lambatnya penerimaan inovasi, yaitu sebagai berikut :

1) Keuntungan relatif (relative advantages), inovasi dapat diterima apabila memiliki keuntungan ekonomis dan nonekonomis atau dapat meningkatkan prestise dan status sosial serta menjanjikan imbalan (reward), aman dilakukan, dan apabila tidak dilakukan ada hukuman (punishment).

2) Kesesuaian atau kecocokan (compatibility), yaitu derajat kesesuaian antara nilai-nilai, pengalaman, dan kebutuhan para adopter dengan nilai-nilai inovasi yang dipengaruhi oleh nilai sosio-kultural dan kepercayaan, gagasan-gagasan yang dimiliki masyarakat tertentu, dan kebutuhan masyarakat itu sendiri.

3) Kerumitan (complexity), tingkat kesulitan pelaksanaan inovasi berpengaruh terhadap penerimaan inovasi.

4) Keterandalan (reliability), jika inovasi dapat diterapkan pada sampel dan memberikan hasil yang memuaskan maka penerimaan terhadap inovasi menjadi cepat.

5) Teramati (observability), inovasi yang dapat ditujukan secara objektif dan masyarakat dapat mengamatinya, berpengaruh terhadap penerimaan inovasi.

Zaltman (1973: 32-50) mengungkapkan bahwa cepat atau lambatnya inovasi diterima, dipengaruhi oleh atribu tersendiri. Inovasi dapat merupakan kombinasi dari berbagai macam atribut, sebagai berikut :

1) Pembiayaan (cost), inovasi memerlukan biaya untuk permulaan dan keberlanjutan. Biaya yang efisien lebih diminati dibanding biaya yang tinggi, karena berkaitan dengan kemampuan penerima inovasi. Namun demikian, biasanya, besarnya biaya inovasi memiliki kecenderungan meningkat.

2) Balik modal (return to investment), suatu inovasi harus menghasilkan kembali hasil yang signifikan secara ekonomi (profit) maupun keuntungan lain (benefit)..

3) Efisiensi (efficiency), terkait dengan berbagai pengorbanan-pengorbanan seperti material maupun psikologis. Inovasi cepat diterima jika pelaksanaannya hemat waktu dan terhindar dari berbagai macam hambatan.

4) Resiko dan ketidakpastian (risk and uncertainty), inovasi yang sedikit atau bahkan tanpa resiko mudah diterima dibanding inovasi yang tidak memiliki kepastian akan keselamatan dan kesehatan.

5) Mudah dikomunikasikan (communicability), inovasi cepat menyebar apabila selalu dikomunikasikan dan upaya komunikasinya dapat dilakukan dengan mudah.

6) Kompatibilitas (compatibility), inovasi akan cepat diterima jika sesuai dengan kebutuhan, keyakinan, norma, pengalaman masa lalu tentang inovasi, pendidikan, dan tingkat ekonomi penerima.

7) Kompleksitas (complexity), kompleksitas atau kerumitan suatu inovasi secara konseptual maupun paraktikal dapat mempengaruhi tingkat penerimaan. Inovasi yang sukar pelaksanaannya relatif lambat penerimaannya.

8) Status ilmiah (scientific status), inovasi yang memenuhi kriteria ilmiah dengan tingkat keterandalan (reliable) dan kesahihannya (valid) mudah dipercaya orang dan relatif lebih cepat diterima.

9) Kadar keaslian (point of origin), pada dasarnya orang senang dengan yang asli dan bermutu tinggi, namun ada sebagian orang yang memilih tiruan karena lebih murah dan kualitasnya juga tidak terlalu buruk. Berdasarkan hal itu maka inovasi ada yang baru dan ada hasil modifikasi.

10) Dapat dilihat kemanfaatannya (perceived relative advantage), melalui demonstrasi dapat dinilai kemanfaatan inovasi sehingga mudah diterima.

11) Dapat dilihat batas sebelumnya (status quo ante), inovasi yang dengan mudah dapat dilihat batas sebelum adanya inovasi, dapat dengan mudah diterima orang.

12) Keterlibatan (commitment), inovasi yang para penerimanya turut terlibat dalam pemikiran dan keputusan, lebih dapat cepat diterima karena merasa memiliki dan tanggung jawab untuk komit terhadap pelaksanaannya.

13) Hubungan interpersonal (interpersonal relationships), memperkenalkan inovasi memerlukan hubungan interpersonal yang baik dan selalu menjaganya supaya tidak terjadi salah komunikasi yang menimbulkan antipati.

14) Kepentingan umum atau pribadi (publicness versus privateness), inovasi untuk kepentingan umum lebih cepat diterima dibanding inovasi yang ditujukan untuk sekelompok orang.

15) Penyuluh inovasi (gate keepers), perlu diangkat orang yang kompeten sebagai penyuluh inovasi.

5. Proses Keputusan Inovasi.

Keputusan akan inovasi dapat dikategorikan pada dua kajian, yaitu penerima dan penolak inovasi. Dalam keadaan apa dan seperti apa penerima inovasi berhubungan dengan proses keputusan inovasi. Sedangkan penolakan inovasi berhubungan dengan kajian mengapa inovasi mengalami hambatan.

Satori dan Wahyudin (2001: 4) mengungkapkan bahwa proses keputusan inovasi pada hakikatnya adalah suatu proses yang dilalui individu atau kelompok, mulai dari pertama kali adanya inovasi. Kemudian dilanjutkan dengan keputusan sikap terhadap inovasi, penetapan keputusan untuk menerima atau menolak, implementasi inovasi, dan konfirmasi atas keputusan inovasi yang dipilihnya.

Inovasi sebagai hal baru tidak serta-merta dapat diterima secara penuh dan langsung oleh anggota, hal ini berkaitan dengan tingkat penerimaan yang dilandasi oleh pengetahuan dan pemahaman anggota yang beragam. Oleh karena itu untuk menerangkan inovasi dalam organisasi perlu melalui tahapan yang menurut Rogers (1983) terdiri atas lima tahapan sebagai berikut.

1). Dimulai dari tahap pengetahuan (knowledge), yaitu saat seseorang membuka diri terhadap inovasi dan ingin mengetahui fungsi inovasi tersebut.

2). Tahap bujukan (persuasion), yaitu tatkala seseorang atau kelompok membuka diri terhadap inovasi mulai menyenangi atau sebaliknya meragukan inovasi.

3). Tahap keputusan (decision), yaitu tatkala seseorang atau kelompok pembuka inovasi mulai menampakkan sikapnya untuk menerima atau menolak inovasi.

4). Tahap implementasi (implementation), yaitu ketika seseorang atau kelompok mulai menerapkan atau menggunakan inovasi.

5). Tahap konfirmasi (confirmation), yaitu tahap ketika seseorang atau kelompok mencari penguatan terhadap keputusan inovasi yang telah diambil. Pengambil keputusan dapat menarik kembali keputusannya jika ternyata diperoleh informasi tentang inovasi yang bertentangan dengan informasi yang terlebih dahulu diterima.

Peter Drucker (Satori dan Wahyudin, 2001: 11) menyarankan dua tahap yang sebaiknya ditempuh dalam proses inovasi sebagai berikut.

Pertama, tahap inisiasi (permulaan) yaitu kegiatan pengumpulan informasi, konseptualisasi, dan perencanaan penerimaan inovasi. Dua kegiatan yang dapat dilakukan adalah agenda setting dan penyesuaian (matching), yaitu :

a. agenda setting untuk menentukan kebutuhan organisasi akan inovasi dan selanjutnya dilakukan studi lingkungan untuk menentukan nilai yang dianggap potensial dan bermanfaat bagi organisasi;

b. penyesuaian (matching) yaitu dilakukan penyesuaian antara kebutuhan organisasi dengan inovasi dan dilakukan redesign yang sesuai dengan tuntutan inovasi.

Kedua, tahap implementasi yaitu tahap pelaksanaan pemakaian inovasi. Tiga hal utama dalam tahapan ini, yaitu sebagai berikut.

a. Redefinisi/restrukturisasi yang dilakukan reinovasi sesuai dengan situasi organisasi dan dilakukan pembenahan struktur sesuai tuntutan inovasi.

b. Klasifikasi, yaitu hubungan antara inovasi dan organisasi dirumuskan sejelas-jelasnya sehingga inovasi dapat berjalan sesuai dengan harapan.

c. Rutinitas, inovasi menjadi rutinitas organisasi dan tidak lagi dapat dikatakan inovasi karena seolah-olah telah hilang kebaruannya. Berger (1980) menyoroti tahapan dalam implementasi adopsi inovasi, yaitu :

(1) tahap penyadaran (awareness),

(2) tahap penumbuhan minat (interest),

(3) tahap penilaian (evaluation),

(4) tahap percobaan (trial), dan

(5) tahap pemungutan (adoption).

Penerimaan inovasi didasarkan pada tipe inovasi sebagaimana Rogers (1983) membedakannya sebagai berikut.

a. Keputusan inovasi opsional, yaitu keputusan seseorang menerima atau menolak secara individual.

b. Keputusan inovasi kolektif adalah keputusan menerima atau menolak berdasarkan kesepakatan bersama.

c. Keputusan inovasi otoritas, yaitu keputusan untuk menerima atau menolak inovasi yang ditetapkan oleh seseorang atau kelompok yang memiliki otoritas/kewenangan, kekuasaan, atau kemampuan melebihi anggota lain dan anggota harus tunduk dan menaatinya.

d. Keputusan inovasi kontingen, yaitu menerima atau menolak inovasi setelah ada keputusan inovasi yang mendahuluinya. Misalnya, menerangkan pelajaran berbasis komputer apabila sekolah telah memiliki perangkat dan inovasi komputer.

Disisi penerimaan inovasi, terdapat penolakan, hambatan difusi inovasi menurut Satori dan Wahyudin (2001: 11) terdapat tiga hambatan utama, yaitu sebagai berikut.

a. Mental block barries, hambatan yang ditimbulkan oleh sikap mental seperti salah persepsi, takut gagal, tidak mau ambil resiko, malas, dan sebagainya.

b. Cultural block, yaitu hambatan budaya yang sudah mengakar dan sulit diubah.

c. Social block, hambatan dari faktor sosial seperti ras, agama, primordialisme, status sosial, dan sebagainya.

Penolakan inovasi secara terang-terangan oleh sekolah jarang terdengar, akan tetapi secara nonformal banyaknya inovasi yang “diproyekkan” menuntut banyak pekerjaan administratif yang dilakukan dan menuai berbagai keberatan dan kritik, karena sekolah tidak lagi sebagai prakarsa inovasi tetapi tetap menjadi objek inovasi yang bersifat top down policy tanpa keseimbangan bottom-up planning.

B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Inovasi Pendidikan

Agar kita dapat memahami tentang perlunya perubahan pendidikan atau kebutuhan adanya inovasi pendidikan dapat kita gali dari tiga hal yang sangat besar pengaruhnya terhadap kegiatan di sekolah sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibrahim (1988: 162) yaitu: a. kegiatan belajar-mengajar, b. faktor internal dan eksternal, c. sistem pendidikan (pengelolaan dan pengwasan).

1. Faktor kegiatan belajar-mengajar.

Yang menjadi kunci keberhasilan dalam pengelolaan kegiatan belajar-mengajar ialah kemampuan guru sebagai tenaga profesional. Guru dipandang memliki keahlian tertentu dalam bidang pendidikan, diserahi tugas dan wewenang untuk mengelola kegiatan belajar-mengajar agar dapat mencapai tujuan tertentu, yaitu terjadinya perubahan tingkah laku siswa sesuai dengan tujuan pendidikan nasional dan tujuan institusional yang telah dirumuskan.

2. Faktor internal dan eksternal.

Faktor internal yang mempengaruhi pelaksana sistem pendidikan ialah siswa. Siswa sangat besar pengaruhnya terhadap proses inovasi karena tujuan pendidikan untuk mencapai perubahan tingkah laku siswa. Jadi siswa sebagai pusat perhatian dan beban pertimbangan dalam melaksanakan berbagai macam kebijakan pendidikan.

Faktor eksternal yang mempunyai pengaruh dalam proses inovasi ialah orang tua. Orang tua murid ikut mempunyai peranan dalam menunjang kelancaran proses inovasi pendidikan, baik ia sebagai penunjang secara moral membantu dan mendorong kegiatan siswa untuk melakukan kegiatan belajar sesuai dengan yang diharapakan sekolah, maupun sebagai penunjang pengadaan dana (sumbangan BP3 atau SPP).

Para ahli pendidik (profesi pendidikan) merupakan faktor internal dan juga eksternal, seperti : guru, administrator pendidikan, konselor, terlibat secara langsung dalam proses pendidikan di sekolah. Ada juga para ahli diluar organisasi sekolah tetapi ikut terlibat dalam kegiatan sekolah seperti : para pengawas, inspektur, penilik sekolah, konsultan, dan mungkin juga pengusaha yang membantu pengadaan fasilitas sekolah. Demikian pula para penatar guru, staf pengembangan dan penelitian pendidikan, para guru besar, dosen, dan organisasi persatuan guru, juga merupakan faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap pelaksanaan sistem pendidikan atau inovasi pendidikan.

3. Sistem pendidikan (pengelolaan dan pengawasan).

Dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah diatur dengan aturan yang dibuat oleh pemerintah. Di Indonesia oleh Departemen Pendidikan Nasional. Guru maupun siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar-mengajar tidak dapat bebas menurut kemauannya, tetapi harus mengikuti aturan yang berlaku, mulai dari cara berpakaian, kegiatan waktu beristirahat, sampai pada kegiatan belajar di kelas. Tentu saja semua aturan yang dibuat itu merupakan tujuan pendidikan nasional. Demikian pula di negara lain termasuk di Amerika Serikat yang banyak memberikan kebebasan pada individu tetap ada aturan yang harus ditaati oleh guru maupun siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar-mengajar di kelas atau di sekolah.

Selanjutnya Ibrahim (1988 : 171) mengungkapkan, bahwa faktor yang dominan pada suatu sekolah ialah guru dan siswa. Interaksi guru dan siswa merupakan faktor utama yang berpengaruh terhadap proses inovasi pendidikan. Sekolah berada pada suatu lingkungan sistem sosial atau merupakan bagian dari sistem sosial. Oleh karena itu perubahan yang terjadi pada suatu sekolah akan mempengaruhi dan mungkin juga dipengaruhi oleh lingkungannya.

Sedangkan menurut Miles, inovasi disekolah baru berhasil apabila melibatkan guru-guru, staf, siswa, dan masyarakat. Semua pihak harus bekerja sama dalam inovasi. Agar masyarakat mendukung inovasi pendidikan, para inovator hendaknya mempertimbangkan saran-saran berikut :

1) Usahakan segenap saluran komunikasi terbuka.

2) Gunakan saluran komunikasi melalui siswa dan staf

3) Jangan menuntut perubahan baru, tanpa didukung oleh bukti.

4) Bantulah masyarakat untuk mengerti, bahkan inovasi pendidikan proses yang lambat.

5) Siapkah masyarakat dalam menghadapi kemungkinan kegagalan.

6) Manfaatkan dana-dana secara jujur dan laporkan pembiayaan inovasi kepada masyarakat.

C. Perencanaan, Strategi Inovasi dan Pengembangan Madrasah

1. Perencanaan Inovasi.

Perencananaan merupakan hal yang mutlak perlu dilakukan untuk suksesnya suatu difusi, adopsi, implementasi, dan institusi inovasi pendidikan. Perencanaan merupakan proses yang berkesinambungan yang berupa kegiatan-kegiatan diagnosa, pengumpulan data, analis data, perumusan masalah, perumusan kebutuhan, peninjauan dan pemilihan sumber, penentuan faktor penunjang dan penghambat, alternatif pemecahan masalah (inovasi), pengambilan keputusan, pembuatan jadwal kegiatan, monitoring, balikan, dan evaluasi.

Ibrahim (1988: 172) mengatakan agar kerjasama dan usaha pendayagunaan sumber yang ada dilingkungan dapat tepat terarah pada sasaran inovasi pendidikan, maka perlu perencanaan yang cermat dan mantap. Adapun elemen-elemen pokok dalam proses perencanaan adalah :

1). Merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus inovasi pendidikan yanga akan dilaksanakan, dengan rumusan yang jelas.

2). Mengidentifikasi masalah.

3). Menentukan kebutuhan.

4). Mengidentifikasi sumber (penunjang) dan penghambat.

5). Menentukan alternatif kegiatan berdasarkan faktor penunjang (sumber) yang ada serta mempertimbangkan adanya hambatan yang mungkin timbul baik dari sistem (sekolah) maupun dari luar sistem (masyarakat).

6). Menentukan alternatif pemecahan masalah.

7). Menentukan alternatif cara pendayagunaan sumber yang ada.

8). Menentukan kriteria untuk memilih alternatif pemecahan masalah.

9). Menentukan alternatif pengambilan keputusan.

10).Menentukan kriteria untuk menilai hasil inovasi pendidikan berdasarkan tujuan umum dan tujuan khusus yang telah ditentukan.

Sedangkan menurut Kenneth (1975:96), perencanaan perubahan meliputi :

1). Penggunaan otoritas dan pengaruhnya,

2). Strategi pemasaran,

3). Riset, pengembangan, dan strategi difusi,

4). Strategi agen perubahan, dan

5). Strategi pemecahan masalah.

2. Strategi Inovasi

Ibrahim (1988 : 54) mengemukakan, bahwa yang dimaksud dengan strategi dalam hal ini ialah tahap-tahap kegiatan yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan inovasi pendidikan. Adapun macam dan pola strategi yang digunakan sangat sukar untuk diklasifikasikan, tetapi secara kronologis biasanya menggunakan pola urutan sebagai berikut.

1). Desain. Ditemukannya suatu inovasi dengan perencanaan penyebarannya berdasarkan suatu penelitian dan observasi atau hasil penelitian terhadap pelaksanaan sistem pendidikan yang sudah ada.

2). Kesadaran dan perhatian. Suatu potensi yang sangat menunjang berhasilnya inovasi ialah adanya kesadaran dan perhatian sasaran inovasi (baik individu maupun kelompok) akan perlunya inovasi. Berdasarkan kesadran itu mereka akan berusaha mencari informasi tentang inovasi.

3). Evaluasi. Para sasaran inovasi mengadakan penilaian terhadap inovasi tentang kemampuannya untuk mencapai tujuan, tentang kemungkinan dapat terlaksananya sesuai dengan kondisi dan situasi, pembiayaannya dan sebagainya.

4). Percobaan. Para sasaran inovasi mencoba menrapkan inovasi untuk membuktikan apakah memang benar inovasi yang telah dinilai baik itu dapat diterapkan seperti yang diharapkan. Jika tenyata berhasil maka inovasi akan diterima dan terlaksanakan dengan sempurna dari strategi inovasi yang telah direncanakan.

3. Strategi Pengembangan Madrasah

Setrategi pengembangan pendidikan madrasah perlu dirancang agar mampu menjangkau alternatif jangka panjang, mampu menghasilkan perubahan yang signifikan , kearah pencapaian visi dan misi lembaga sehingga akan memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif terhadap bangsa lain. Dalam pengembangan madrasah ada beberapa hal pokok yang harus diperhatikan yaitu :

A. Setrategi

Menurut Departemen Agama RI ( 2004 : 38 ) Setrategi Pengembangan Madrasah dilakukan dengan lima strategi pokok yaitu :

a. Setrategi Peningkatan Layanan Pendidikan di Madrasah

Ihktiar untuk senantiasa mengembangkan madrasah pada situasi apapun termasuk pada situasi krisis ekonomi sampai saat ini yang sampai sekarang masih dirasakan akibatnya strategi yang ditempuh lebih difokuskan pada upaya mencegah peserta didika agar tidak putus sekolah , mempertahankan mutu pendidikan agar tidak semakin menurun , adapun langkah –langkah tersebut adalah : 1). Angka putus sekolah di madrasah dipertahankan seperti sebelum krisis dan akhirnya dapat diperkecil . 2) . Peserta didik yang kurang beruntung seperti yang tinggal di daerah terpencil tetap dapat memperoleh layanan pendidikan minimal tingkat pendidikan dasar . 3) . siswa yang telah terlanjur putus sekolah didorong kembali untuk kembali dan atau memperoleh layanan pendidikan yang sederajat dengan cara yang lain misalnya di madrasah terbuka. 4 ). Proses belajar mengajar di madrasah tetap berlangsung meskipun dana terbatas.

b. Setrategi Perluasan dan Pemerataan Kesempatan Pendidikan di Madrasah

Meskipun strategi ini terfokus pada program wajib belajar pendidikan dasar ( Wajar Dikdas 9 tahun ) jnis dan jenjang pendidikan lainnyapun tercakup. Indikator-indikator keberhasilannya adalah : 1). Mayoritas penduduk berpendidikan minimal MTs ( SMP ) dan partisipasi pendidikan meningkat, yang ditunjukan dengan APK pada semua jenjang dan jenis madrasah. 2). Meningkatnya budaya belajar yang ditunjukan dengan meningkatnya angka melek huruf . 3). Proporsi jumlah penduduk yang kurang beruntung yang mendapat kesempatan pendidikan semakin meningkat.

c. Setrategi Peningkatan Mutu dan Relevansi Pendidikan di Madrasah

Kebijakan program Mapenda untuk meningkatkan mutu relevansi madrasah, meliputi 4 (empat) aspek yaitu : kurikulum, guru dan tenaga kependidikan lainnya, sarana pendidikan serta kepemimpinan madrasah.

d. Setrategi Pengembangan Manajemen Pendidikan Madrasah

Setrategi ini berkenaan dengan upaya mengembangkan sistem manajemen madrasah sehingga secara kelembagaan madrasah akan memiliki kemampuan-kemapuan sebagai berikut : 1). Berkembangnya prakarsa dan kemampuan-kemampuan kreatif dalam mengelola pendidikan , tetapi tetap berada dalam bingkai visi , misi, serta tujuan kelembagaan madrasah . 2). Berkembangnya organisasi pendidikan di madrasah yang lebih berorientasi profesionalisme, dari pada hierarchi. 3). Layanan pendidikan yang semakin cepat terbuka, adil dan merata.

e. Setrategi Pemberdayaan Kelembagaan Madrasah

Strategi ini menenkankan pada pemberdayaan kelembagaan madrasah sebagai pusat pembelajaran pendidikan dan pembudayaannya . Indikator keberhasilannya adalah : 1). Tersedianya madrasah madrasah yang semakin bervariasi , yang diikuti oleh visi dan misi serta tujuan pendidikan madrasah dengan dukungan organisasi yang efektif dan efisien. 2). Mutu dan sarana –prasarana madrasah yang semakin meningkat dan iklim pembelajaran yang semakin kondusif bagi peserta didik .3). tingkat kemandirian madrasah semakin tinggi.

B. Desain Pengembangan Madrasah

Prinsip-prinsip pengembangan madrasah seperti yang dijelaskan diatas dapat diaktualisasikan dengan menghadirkan tiga desain besar pendidikan madrasah ( Departemen Agama RI.2004: 53 ) yaitu :

1. Madrasah Unggulan

Madrasah unggulan dimaksudkan sebagai center for excelence dan akan dikembangkan satu buah untuk tiap provinsi. Madrasah unggulan diproyeksikan sebagai wadah penampungan putra-putra terbaik masing-masing daerah untuk didik secara maksimal tanpa harus pergi ke daerah lain.

2. Madrasah Model

Madrasah Model dimaksudkan sebagai center for excellence yang dikembangkan lebih dari satu buah untuk tiap provinsi dan diproyeksikan sebagai wadah penampung putra-putra terbaik masing-masing daerah untuk didik secara maksimal tanpa harus pergi ke daerah lain.

Karena menjadi center for excellence anak-anak terbaik maka kesempatan belajar kedua jenis madrasah ini harus melalui proses seleksi yang ketat dan dengan berbagai ketetntuan lainnya, madrasah model juga diperkuat oleh Majlelis Madrasah yang memiliki peran penting dalam membantu meningkatkan kualitas pembelajaran di madrasah model

3. Madrasah Reguler atau Kejuruan

Madrasah reguler atau kejuruan adalah madrasah yang fungsi utamanya adalah memberikan pelayanan pendidikan kepada setiap masyarakat tanpa terkecuali.Madrasah ini dibangun beberapa buah untuk tiap kabupaten sesuai kebutuhan dengan dana dari pemerintah daerah sehingga setiap kecamatan terdapat minimal satu madrasah reguler/kejuruan. Sebagaimana jenis madrasah lainnya, madrasah reguler /kejuruan juga diperkuat oleh Majelis Madrasah yang secara aktif membantu pengembangan madrasah.

C. Performa Madrasah yang Ideal

Madrasah diharapkan dapat memainkan peranan penting dalam pembentukan intelektual, emosional dan spritual anak. Madrasah seharusnya menjadi wadah pemupukan kecerdasan setiap siswa , dan diatas segalanya menjamin agar setiap siswa mendapat kesempatan belajar yang sama dan layak.

Berkenaan dengan hal tersebut maka tiga karakter dasar madrasah yang perlu dikembangkan secara holistik agar dapat menciptakan performa madrasah yang mendekati kriteria-kriteria idealisme pendidikan modern ( Departemen Agama RI,2004:63 ) , tiga karakter tersebut yaitu :

1. Memiliki kultur yang kuat

Kultur merupakan jiwa madrasah yang memberi makna bagi setiap kegiatan kependidikan madrasah dan menjadi jembatan antara aktifitas dan hasil yang dicapai. Kultur adalah sebuah keadaan yang mengantarkan siswa madrasah melebihi batas-batas kekurangan manusiawi menuju tingkat kreatifitas seni dan intelek yang tinggi.Karena itu kultur madrasah , dalam hal ini kultur belajar haruslah dibangun sejak awal agar semua elemen madrasah memiliki komitmen untuk kemajuan madrasah.

2. Kepemimpinan Kolaboratif dan Belajar Kolektif

Kepemimpinan dalam madrasah harus didefinisikan sebagai sebuah proses belajar bersama ( collective learning ) yang saling menguntungkan yang memungkinkan seluruh unsur masyarakat madrasah turut ambil bagaian dalam membangun kesepakatan yang mengakomodir berbagai kepentingan ( kolektif dan kolaboratif ) .Kolaborasi yang dimaksud bukan hanya sekedar berarti setiap orang mampu menyelesaikan pekerjaannya, tapi yang terpenting adalah semuanya dilakukan dalam suasana kebersamaan dan saling mendukung . Kolaborasi menjadi syarat jika kita ingin agar madrasah menjadi learning organization karena kolaborasi berhubungan erat dengan norma dan kesempatan bagi terjadinya proses belajar yang terus menerus.

3. Membiasakan siswa menghadapi perubahan / ketidak pastian

Hidup adalah perubahan. Secara alami perubahan tidak bisa diprediksi. Agar bisa memahami dan berbuat dalam kondisi yang tidak bisa diprediksi tersebut sebuah upaya pendidikan yang terus menerus , seumur hidup menjadi sebuah kemestian. Jika tujuan pendidikan formal adalah untuk memupuk intelegensi manusia , maka madrasah hendaknya membuka diri terhadap ketidakpastian atau ambiguity. Sebuah lembaga pendidikan yang secara aktif merespons suasana ambiguity dan ketidakpastian adalah penting untuk kelangsungan sebuah masyarakat yang belajar ( community of learners )

Berdasarkan uraian tersebut, maka keberhasilan dalam penerapan inovasi harus melalui tahapan-tahapan dan strategi yang baik disesuaikan dengan kondisi lingkungan sosial masyarakat setempat. Demikian pula halnya dengan perubahan sekolah, kepala sekolah, guru, staf, siswa, dan masyarakat adalah merupakan faktor dominan yang besar pengaruhnya terhadap keberhasilan inovasi yang dapat membawa perubahan sekolah kearah perkembangan dan peningkatan kualitas, seperti fasilitas, proses belajar-mengajar, maupun dalam proses penciptaan suasana lingkungan yang kondusif, damai, harmonis, dan menyenangkan, penuh rasa kekeluargaan..

D. Sistem Pendidikan Nasional yang Diperlukan Masyarakat Masa Depan

Sudah kita lihat bagaimana sosok masyarakat masa depan dengan nilai-nilainya yang dominan. Pendidikan merupakan sebagian dari kehidupan masyarakat dan juga sebagai dinamisator masyarakat itu sendiri. Memang kita semua mengetahui betapa sektor pendidikan selalu terbelakang dalam berbagai sektor pembangunan lainnya bukan saja karena sektor itu. Itu lebih dilihat sebagai sektor konsumptif, juga karena “by definition” pendidikan adalah penjaga status quo masyarakat itu sendiri.

Pendidikan nasional harus diarahkan kepada tercapainya masyarakat yang madani, ada beberapa ciri utama dari suatu masyarakat madani: pertama-tama suatu masyarakat madani adalah masyarakat yang demokratis. Artinya masyarakat tersebut adalah masyarakat terbuka karena kesepakatan bersama dari para anggotanya.Masyarakat madani adalah masyarakat yang berkedaulatan rakyat.

Sebagaimana dikatakan oleh pakar pendidikan H.A.R.Tilaar dalam bukunya Paradigma Baru Pendidikan Nasional

Masyarakat madani Indonesia yang ingin kita wujudkan melalui pendidikan nasional haruslah mengembangkan ciri-ciri dan unsur masyarakat tersebut. Hal tersebut harus dapat dijabarkan melalui praksis pendidikan nasional baik dalam pendidikan formal, pendidikan non formal maupun didalam pendidikan in formal.” (H.A.R.Tilaar,2004:9)

Pendidikan dalam rangka untuk mewujudkan masyarakat Indonesia baru, yaitu masyarakat madani Indonesia tentunya mengalami berbagai hambatan dan tantangan baik tantangan yang berasal dari dalam maupun tantangan yang berasal dari luar.

Dalam aspek ini peranan pendidikan memang sangat strategic karena menjadi tiang sanggah kesinambungan masyarakat itu sendiri. Bayangkan betapa runyamnya kehidupan ini apabila tidak ada dasar pijakan dan tidak ada bintang penunjuk, jalan. Kehidupan tanpa jiwa. Dalam Matriks 1 mengenai perkembangan generasi nilai-nilai dalam masyarakat Indonesia kita lihat adanya kesinambungan nilai-nilai antargenerasi. Nilai-nilai dasar akan semakin kokoh dalam perjalanan kehidupan bangsa seperti nasionalisme dan patriotisme sebagai nilai-nilai generasi pertama dari perjalanan hidup bangsa Indonesia. Sudah tentu nilai-nilai luhur itu perlu ditempa, dihaluskan, dan diasah terusmenerus sesuai dengan perubahan kehidupan. Inilah salah satu tugas dari Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS), menjaga, melestarikan, dan mengembangkan nilai-nilai luhur bangsa.

Aspek kedua yang dihadapi SISDIKNAS ialah dinamika dari kehidupan nasional itu sendiri. Masyarakat akan terus berubah dan setiap perubahan membawa nilai-nilai baru. Ada yang sejalan dengan nilai-nilai yang berlaku tetapi banyak yang justru berlawanan. Apalagi kehidupan manusia dewasa ini telah mengglobal sehingga tidak bisa mengelak dari perubahan-perubahan di dunia.Lihat saja misalnya bagaimana pengaruh kemajuan iptek dalah kehidupan manusia. Dunia pendidikan biasanya tidak siap dalam menghadapi kemungkinan perubahan-perubahan itu. SISDIKNAS sebaga bagian dari sistem manajemen pembangunan nasional seyogyanya sensitif terhadap gerak perubahan itu agar dapat menyiapkan generasi muda tanggap dan dapat ikut mengarahkan dinamika perubahan masyarakat tersebut.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Madrasah sebagai salah satu lembaga pendidikan mempunyai sumbangsih yang cukup besar terhadap pendidikan di Indonesia mulai dari jaman penjajahan sampai jaman kemerdekaan , sebagai lembaga pendidikan yang mayoritas berstatus swasta maka perlu mendapat perhatian dari semua pihak kusunya dari pemerintah, sehingga madrasah perlu ditingkatkan mutunya agar mampu bersaing dalam kehidupan global dan mampu menjawab tantangan dan perkembangan zaman.

Hal ini menjadi indikasi kuat perubahan lingkungan strategis pendidikan dimasa depan untuk dapat mengembangkan pendidikan melalui strategi inovasi dan perubahan agar tetap eksis, dan dapat mempertahankan nilai-nilai jati diri bangsa dan mampu membina moral bangsa di tengah arus globalisasi yang sedang menerpa.

Pendidikan merupakan suatu sistem, maka inovasi pendidikan mencakup hal-hal yang berhubungan dengan komponen sistem pendidikan, antara lain seperti pembinaan personil, fasilitas fisik, penggunaan waktu, perumusan tujuan, kurikulum, proses belajar-mengajar, maupun perencanaan dan strategi yang digunakan dalam proses perubahan tersebut.

Ibrahim (1988: 172) mengatakan ” agar kerjasama dan usaha pendayagunaan sumber yang ada dilingkungan dapat tepat terarah pada sasaran inovasi pendidikan, maka perlu perencanaan yang cermat dan mantap. Oleh karen itu, perencananaan merupakan hal yang mutlak perlu dilakukan untuk suksesnya suatu difusi, adopsi, implementasi, dan institusi inovasi pendidikan

Untuk mencapai tujuan inovasi pendidikan menurut Ibrahim (1988:54) harus melalui tahap-tahap kegiatan yang dilaksanakan, walaupun pola strategi yang digunakan sangat sukar untuk diklasifikasikan, tetapi secara kronologis biasanya menggunakan pola urutan, yaitu 1) desain, 2) kesadararan dan perhatian, 3) evaluasi, dan 4) percobaan. Sedangkan menurut Bennis, Bene, dan Chin (1974) mengemukakan beberapa strategi perubahan yang inovatif, yaitu : 1) Rational-empirical strategy, 2) Normal-reeducative strategy, dan 3) Power-coercive strategy.

Desain pengembangan madrasah diususun dengan disertai harapan kiranya dapat dijadikan acuan bagi perencana, praktisi lapangan dan para pengambil kebijakan di semua lapisan, sehingga gerak perkembangan madrasah akan memiliki arah yang jelas ,terukur dan bersifat konseptual. Tentu saja dalam implementasinya akan sangat terbuka dengan berbagai kecenderungan baru dalam bidang ekonomi, politik sosial , budaya yang dipandang berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap momentum pengembangan madrasah. Kecenderungan-kecenderungan tersebut akan diektrapolasi dalam satu keterkaitan ke depan ( future lingkages ) sehingga langkah-langkah pengembangan madrasah akan tetap dapat mengantisipasi tantangan masa depan.

Berdasarkan uraian tersebut, maka keberhasilan dalam penerapan inovasi harus melalui tahapan-tahapan, dan strategi yang baik serta perencanaan yang cermat dan mantap, dengan di dukung oleh semua komponen yang terlibat di dalam proses inovasi.

B. Saran-saran

1. Kepala Madrasah sebagai faktor dominan yang sangat berpengaruh dalam perubahan madrasah, hendaknya bersikap terbuka terhadap guru dan staf serta dapat menciptakan kemitraan dengan masyarakat melalui komite sekolah.

2. Layanan pembelajaran harus ditingkatkan, karena merupakan aspek utama sekolah yang menjadi patokan, terjadi atau tidaknya perubahan kemampuan siswa sebagai representatif upaya yang dilakukan guru, staf dan kepala sekolah dalam meningkat kualitas pendidikan

3. .Madrasah sebagai organisasi pendidikan, setiap langkahnya harus ditujukan pada penciptaan madrasah pembelajar, artinya setiap saat madrasah selalu terbuka untuk selalu belajar. Karena belajar dapat meningkatkan pengetahuan, dan diharapkan dapat mengembangkan tindakan baru yang inovatif.

4. Guru hendaknya memiliki sikap mental proaktif untuk mengubah dirinya sendiri terhadap tuntutan lingkungan, dengan demikian inovasi dan perubahan yang terjadi di sekolah akan cepat terlaksana dan kelihatan hasilnya.

5. Masyarakat hendaknya ikut berperan aktif dalam memberikan dukungan dan sumbangsih terhadap keberadaan madrasah agar madrasah senantiasa meningkatkan kualitas agar lulusan madrasah mampu bersaing pada dunia kerja dan mampu menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknolgi dan perkembangan jaman

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR……………………………………………………………….. i

DAFTAR SISI………………………………………………………………………….. ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah……………………………………………………. 1

B. Perumusan Masalah…………………………. ……………………………… 4

C. Tujuan Penulisan…………………………….. ……………………………… 5

BAB II. PEMBAHASAN

A. Konsep Inovasi Pendidikan………………………………………………. 6

B.Faktor-faktor yang Mempengaruhi Inovasi Pendidikan …………………………………………………………………………………… 17

C.Perencanaan, Strategi Inovasi dan Pengembangan Madrasah……………………. ……………………………………………… 19

D. Sistem Pendidikan Nasional yang Diperlukan Masyarakat Masa Depan………………………………………………… 27

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan…………………………………………………………………….. 30

B. Saran-saran…………………………………….. ……………………………… 32

DAFTAR PUSTAKA

ii

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, Puji Syukur kami haturkan ke Hadirat Allah SWT, yang telah telah memberikan rahmat dan karunia kepada kita semua sehingga penulis mampu menyelasaikan penulisan makalah ini. Tidak lupa selawat beriring salam semoga senantiasa tercurahlimpahkan kepada junjungan alam Nabi besar Muhammad SAW, yang telah membimbing kita menuju jalan keselamatan.

Makalah berjudul ” DESAIN PENGEMBANGAN MADRASAH SEBAGAI WUJUD INOVASI PENDIDIKAN DALAM RANGKA MENSUKSESKAN PENDIDIKAN NASIONAL” ini merupakan salah satu tugas semester pendek mata Kuliah Orientasi baru Dalam Pedagogik yang diampu oleh Ibu Prof. Dr.Hj. Martini Jamaris, MSc.Ed. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, masih banyak kesalahan, walaupun penulis sudah berusaha secara maksimal untuk menghasilkan yang terbaik. Oleh karena itu sangat penulis harapkan saran dan kritik yang sifatnya membangun demi kesempurnaan dari penulisan laporan Buku ini.

Selesainya penulisan makalah ini tidak terlepas dari berbagai bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan sejuta terima kasih kepada Ibu Prof. Dr. Martini Jamaris, MSc.Ed. yang telah memberikan bimbingan dalam perkuliahan ini. Juga kepada teman-teman mahasiswa Program Pasca Sarjana Program Studi Manajemen Pendidikan kerjasama Sekretairs Jendral Departemen Agama RI dengan Universitas Negeri Jakarta .

Akhirnya semoga Rahmat dan Ridlo-Nya selalu dicurahkan kepada kita semua sehingga kita dapat menjadi hamba terbaik di sisi-Nya.

Jakarta, Februari 2010

Wassalam

Penulis,

Nur Widiantoro

No.Reg:.7617090977

i

DAFTAR PUSTAKA

Azhari Ahmad.2001. Supervisi Rencana Program Pembelajaran. Jakarta: Rian Putra

Dewey,John.1964. Democracy And Education. New York: The Mc Millan Company.

Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam Depag.RI.2003. Standar Penilaian Di Kelas. Jakarta: Dirjen Baga Islam Depag.RI.

Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam Depag.RI.2004. Membiasakan Tradisi Agama ; Arah Baru Pengembangan Pendidikan Agama Islam Pada Sekolah Umum. Jakarta: Dirjen Baga Islam Depag.RI.

Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam Depag.RI.2005. Desain Pengembangan Madrasah.. Jakarta: Dirjen Baga Islam Depag.RI.

……….2005. Standar Supervisi dan Evaluasi Pendidikan pada Madrasah Aliyah. Jakarta: Dirjen Baga Islam Depag.RI.

Hamalik, Oemar. 2003. Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi. Jakarta: PT Bumi Aksara

Hamalik, Oemar. 2005. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta: PT Bumi Aksara

Ibrahim, 1988. Difusi dan Inovasi Pendidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya

Imran, Ali. 1996. Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta: Pustaka Jaya

Marcy P.Driscoll. 2005. Pshchology Of Learning For Instruction, New York: The Mc Millan Company

Mukhtar dan yamin Martinis. 2001. Metode Pembelajaran Yang Sukses.. Jakarta : Sasama Mitra Suksesa

Soedijarto.2008. Landasan Dan Arah Pendidikan Nasional Kita. Jakarta: Kompas

Sudiana Nana. 1995. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru Algensindo

Tilaar.H.A.R.2004. Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta: Rineka Cipta

……….1992. Manajemen Pendidikan Nasional,Kebijakan Pendidikan Masa Depan. Jakarta: Rineka Cipta

Tomassevski, Katarina. 2003. Pendidikan Yang Terabaikan; Masalah Dan Penyelesaiannya. Jakarta : Departemen Hukum Dan HAM.

Purwanto, Ngalim. 2003. Psikologi Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sanjaya, Wina. 2007. Strategi Pembelajaran, Jakarta : Kencana

Syah, Muhibbin. 2003. Psikologi Belajar: Jakarta :Raja Garfindo Persada

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s